Menjadi Paid Blogger adalah Dilema

paid-reviewBlog monetizing saat ini memang menjadi fenomena sendiri di blogosphere. Berbekal blog yang bisa didapatkan secara gratis di internet, blogger mana pun bisa mendapatkan penghasilan yang berlimpah. Bukan tidak mungkin, si Fulan yang saat ini masih duduk di bangku SMA sudah punya penghasilan puluhan juta sebulan hanya dengan berbekal satu buah blog.

Bagaimana caranya, itu bisa bermacam-macam. Mulai dari yang namanya program periklanan Pay per Click seperti Google Adsense, hingga bisnis Affiliasi dan Paid Post/Paid Review. Semuanya bisa dengan mudah dilakukan. Bisnis pay per click bisa kita jalankan hanya dengan mendaftarkan diri di situs-situs yang menyelenggarakan program pay per click, kemudian memasang kode iklan di blog yang kita punya. Pemilik blog akan mendapatkan bayaran atas setiap klik terhadap iklan, yang dilakukan oleh pengunjung blog.

Bisnis affiliasi lain lagi. Pemilik blog biasanya memanfaatkan blognya untuk membantu menjualkan, atau mempromosikan produk atau layanan tertentu dari penyelenggara bisnis affiliasi. Untuk setiap produk yang terjual melalui bantuan promosi dari blog, si blogger akan mendapatkan komisi sejumlah tertentu sesuai ketentuan yang telah dibuat oleh penyelenggara bisnis affiliasi.

Sementara paid blogger, pemilik blog mendapatkan penghasilan dari menulis artikel di blog. Artikel yang ditulis biasanya sesuai dengan keinginan advertiser, atau penyelenggara bisnis. Umumnya berupa review terhadap produk tertentu, atau review terhadap situs tertentu. Terkadang juga artikel yang ditulis adalah artikel blog biasa, namun harus menyertakan link di artikel tersebut, dengan kata kunci (anchor text/keyword) tertentu. Bisnis ini biasanya yang paling cepat mendapatkan keuntungan, apalagi bila didukung oleh kemampuan menulis (khususnya bahasa inggris) yang baik.

Lalu mengapa saya mengatakan menjadi paid blogger adalah sebuah dilema? Tidak menjadi dilema tentu saja, apabila kita hanya mengejar profit, tanpa memperhatikan kualitas dan manfaat tulisan yang kita buat itu untuk pembaca blog kita nantinya. Tapi bagi para blogger yang selalu menjaga konten blognya dengan membuat artikel yang bermanfaat bagi pembaca, dengan tetap berpegang teguh pada “kebebasan berekspresi”, menjadi paid blogger bisa jadi “haram” hukumnya. Menjadi dilema tentu saja, karena keuntungan finansial yang bisa didapatkan tidaklah sedikit. Untuk satu tulisan dengan panjang sekitar 200 kata saja, penghasilan yang bisa didapatkan sekitar $8 sampai $20, tergantung nilai-nilai tertentu, misalnya pagerank, popularitas, dan trafik pengunjung.

Dengan menjadi paid blogger, kebebasan berekspresi melalui blog jelas berkurang karena kita diwajibkan menulis sesuatu sesuai keinginan advertiser. Blog juga menjadi kacau balau, karena isi blog sudah diisi oleh kepentingan advertiser (sponsor). Kalau blog yang tadinya berisi cerita-cerita lucu dan menarik, tiba-tiba saja sesekali berisi tulisan yang tidak jelas dengan link-link ke situs antahbarantah. Si blogger pun bisa saja kehilangan pamor sebagai penulis yang baik, karena pembaca setianya tiba-tiba ilfill dengan tulisan review yang dibuat si blogger.

Ini juga yang pernah saya alami saat intens menjalankan bisnis ini. Blog lama saya yang beralamat di profmustamar.com berisi artikel yang kacau balau, antara tulisan personal dengan review-review berbayar. Lumayan banyak pendapatan yang sudah saya peroleh, namun esensi dari tiap postingan yang saya buat di blog itu rasanya sudah hilang. Saya sudah tidak merasa bertanggung jawab pada tulisan yang saya buat, tidak lagi memperdulikan tulisan saya akan dibaca oleh orang lain atau tidak, tidak lagi berpikir tulisan ini akan bermanfaat bagi pembaca atau tidak. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak memperpanjang penyewaan domain tersebut (ditambah lagi pada saat domain mulai expired, saya sudah tidak pernah membuka email yang saya gunakan untuk registrasi domain).

Nah, bagaimana agar ngeblog tetap berkualitas, namun bisnis paid review tetap jalan dan memberikan income?

1. Buatlah blog tersendiri khusus untuk bisnis paid review.

Buatlah blog khusus untuk bisnis paid review, terpisah dengan blog yang kita jaga kualitas tulisannya. Jangan pernah mencampur adukkan tulisan review dengan tulisan di blog utama yang kita kelola dengan baik.

2. Jangan terpengaruh dengan popularitas blog yang telah terbangun.

Beberapa teman saya yang tadinya saya kenal memiliki blog yang berkualitas akhirnya ‘berpindah haluan’ akibat tidak tahan godaan dollar. Blog-blognya yang tadinya intens membahas tentang budaya, kini berubah menjadi blog bisnis. Itu semua terjadi karena popularitas blog yang dipunyai sudah cukup tinggi, mulai dari pagerank, trafik pengunjung, dan popularitas link. Blog dengan popularitas yang tinggi biasanya menjadi incaran utama advertiser. Tentu saja ini menjadi peluang bagi si pemilik blog, walaupun konsekuensinya adalah blog akan kehilangan pembaca setia.

Saran saya, sebaiknya jangan pernah tergoda untuk memonetize blog melalui bisnis paid review, walaupun popularitas blog sudah tinggi. Ingat, membuat brand suatu blog itu susah. Jangan pernah membuat pembaca setia kecewa, lalu pergi, dan takkan kembali. (hallaaah.. hahahaha).

Itu saja saran saya.

Selamat lanjutkan aktivitas ngeblognya…

10 thoughts on “Menjadi Paid Blogger adalah Dilema

  1. Setuju Kang !
    Itu sebuah dilema. Dulu saya pernah ikut begituan sampai dapat beberapa puluh dollar, tapi kemudian ngga saya lanjutkan karena contentnya jadi ngga keruan. hahahahahha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>