Siang tadi saya menghadiri seminar Indonesia Linux Conference 2009 (ILC 2009), di Gedung Iptek Universitas Hasanuddin, Makassar. Kegiatan tahunan para penggiat Linux tanah air, yang diselenggarakan secara bergantian di kota-kota terpilih di Indonesia. Tahun 2008 yang lalu, ILC (ILC 2008) diadakan di Kuta, Bali.
Sesi seminar yang sempat saya ikuti diisi oleh 3 pembicara, yang saya lupa namanya, namun saya kenal mereka adalah penggiat Linux yang lumayan dikenal di Indonesia. Saya tahu, karena beberapa kali melihat foto-foto mereka nongkrong di majalah Info Linux yang sering saya baca. Seminar dimoderatori oleh Adi Nugroho, penggiat Linux yang lumayan populer di kota Makassar.
Topik yang dibahas tiap-tiap pembicara berbeda-beda, namun secara garis besar mereka mempresentasikan nilai-nilai positif penggunaan Linux dan FOSS (Free and Open Source Software), dibandingkan dengan penggunaan Software Proprietary. Pembicara pertama, misalnya. Menunjukkan betapa menguntungkannya menggunakan Linux dan FOSS, seperti Open Office, dalam hal keamanan, finansial, dan keunggulan teknis lainnya.
Pembicara berikutnya menjelaskan keunggulan sistem Open Source dalam bidang pengajaran. Juga mempresentasikan bagaimana Linux adalah solusi untuk mengatasi missing link pengembangan dunia IT di Indonesia. Sedangkan pembicara terakhir memberikan penghitungan betapa menguntungkannya penggunaan Linux secara finansial, karena sifatnya yang Free dan Open Source.
Saya sendiri menilai sistem operasi Linux adalah sistem operasi yang luar biasa. Powerful, stabil, aman, open source, mudah didapatkan, umumnya gratis pula! Siapa yang tidak tertarik dengan sistem operasi yang sehebat itu?
Dibandingkan dengan distribusi (distro) Linux pada jaman awal saya berkenalan dengan Linux (sekitar tahun 2003), distro Linux sekarang ini sudah jauh lebih user friendly, walaupun sesekali kita harus mengoperasikannya melalui console, mirip dengan Command Prompt di Windows, dan harus menghafal perintah-perintah tertentu untuk mengerjakan sesuatu.
Dari segi user interface, sistem operasi ini juga sudah sangat keren. Bahkan mungkin lebih keren dari tampilan yang disuguhkan sistem operasi Windows.
Namun sistem operasi dengan sejuta kehebatan itu masih punya satu kekurangan: Popularitas! Ya, pada kenyataannya pengguna Linux di seluruh dunia ini kurang dari 2%, sangat sangat jauh lebih sedikit dibanding pengguna sistem operasi proprietary seperti Windows dan Mac. Sumbernya bisa dilihat di sini.
Nah, pertanyaannya adalah: kenapa sistem operasi sehebat itu tidak memiliki pengguna yang banyak?
Untuk menjawabnya, mari kita melihat ke beberapa faktor.
1. Developer Sistem Operasi Linux (Distro Linux).
Ada ratusan (kalau tidak mau disebut ribuan) distro Linux beredar di Internet, yang rata-rata dapat kita dapatkan dan gunakan secara gratis. Namun hanya beberapa yang populer dan mampu bertahan dalam pengembangan, seperti Debian, Ubuntu, Open Suse, Fedora, Debian, Slackware, dll. Karena sifatnya yang open source, beberapa distro tersebut bahkan sudah menjadi basis untuk pengembangan distro-distro turunan, seperti Debian yang menjadi basis pengembangan Ubuntu (cmiiw), atau Ubuntu yang menjadi basis pengembangan distro BlankOn, Edubuntu, dll.
Sejauh ini developer sudah bekerja dengan baik: menyediakan sistem operasi yang powerful dan user friendly, dan bersifat open source, yang dapat dipasangi berbagai aplikasi dan software 3rd party lainnya, sehingga sebuah komputer dapat digunakan untuk mengerjakan suatu pekerjaan. Yang perlu dilakukan oleh developer hanyalah perbaikan dan penyempurnaan, dan penyesuaian dengan perkembangan teknologi ke depan. Termasuk di dalamnya adalah antisipasi perkembangan teknologi hardware dan bahasa pemrograman.
2. Dana Pengembangan dan Promosi.
Operating sistem Linux dikembangkan sangat bergantung pada komunitas penggunanya. Beberapa tidak dikembangkan oleh perusahaan besar yang bermodal besar. Pengembangan sangat bergantung pada donasi dari donatur, dan para penggunanya. Dana yang minim itu menjadi kendala marketing untuk produk sistem operasi Linux itu sendiri. Pemasaran dijalankan oleh para penggunanya saja, melalui kegiatan-kegiatan penggunanya. Termasuk seperti Indonesia Linux Conference yang siang tadi saya ikuti. Menurut saya, cara promosi seperti ini hanya efektif untuk sasaran orang-orang yang terlanjur cinta pada software ini, karena informasi hanya berputar-putar di sekitar penggunannya saja. Sementara untuk pasar yang lebih luas, cara seperti ini kurang efektif.
3. Developer 3rd Party Software.
Di sini inilah saya kira masalah paling besar. 3rd party software adalah software-software yang dijalankan di sistem operasi Linux, untuk mengerjakan suatu pekerjaan di komputer. Misalnya, untuk mengerjakan pekerjaan kantor, software 3rd party yang paling populer digunakan adalah Open Office. Untuk mengerjakan pekerjaan desain grafis, software Gimp dan InkScape merajai. Untuk pengerjaan objek animasi 3 dimensi, mungkin sistem operasi Blender adalah salah satu yang paling tangguh. Juga banyak software-software lain yang digunaka untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lainnya.
Sebagai sebuah software yang ditujukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan khusus, harusnya software 3rd party ini juga harus mampu menjadi program yang user friendly. Yang paling penting, mampu diandalkan untuk menyelesaikan pekerjaan itu!
Nah, di sinilah masalahnya. Software 3rd party ini mendapat saingan berat, bukan dari sesama software 3rd party yang mendukung Linux, namun dari software proprietary yang mampu mengerjakan pekerjaan sejenis, yang dikembangkan untuk sistem operasi propietary juga.
Saya ambil contoh, pesaing utama Open Office adalah Microsoft Office; Gimp vs. Photoshop; Nvu vs. Adobe Dreamweaver; Inscape vs. CorelDraw; Blender vs. 3D MAX. Apakah software 3rd party open source itu dapat bersaing dengan software 3rd party proprietary? Secara finansial mungkin bisa, karena rata-rata software 3rd party itu gratis. Namun secara user interface, ketangguhan, kualitas hasil kerja, dan kecepatan pengolahan kerja, mungkin software proprietary masih jauh lebih unggul.
Itulah sebabnya banyak perusahaan-perusahaan (end user) yang secara professional bekerja untuk hal-hal khusus (digital printing, web developer; perkantoran, developer dan kontraktor), lebih memilih menggunakan software proprietary ketimbang yang open source. Alasannya: gratis tapi pekerjaan tidak selesai, sama saja bohong!
4. Penggiat Linux.
Penggiat Linux sejauh ini sudah getol melakukan kegiatan yang berhubungan dengan Linux. Mulai dari melakukan migrasi software di perusahaan-perusahaan dan kantor pemerintahan, hingga kegiatan-kegiatan memperkenalkan Linux, seperti pelatihan dan konferensi. Namun mengenai pelatihan konferensi, sejauh yang sering saya ikuti, selain materi utama “presentasikan keunggulan Linux dibanding Proprietary”, materi lainnya cuma satu: Installasi Linux!
Setelah disuguhi presentasi mengenai keunggulan Linux, mereka diajarkan bagaimana melakukan installasi Linux, membuat partisi harddisk, mengkonfigurasi jaringan, dll. Para peserta awam yang tadinya tertarik dengan Linux, tentunya akan merasa bahwa mempelajari Linux itu SUSAH, karena harus mempelajari cara installasinya dan harus menghafal perintah-perintah console atau terminal.
Sangat jarang sekali saya temui ada pelatihan dengan tema, “Pelatihan Desain Grafis dengan Gimp”, atau “Pelatihan Animasi 3 Dimensi dengan Blender”, atau “Pelatihan Menggambar Arsitektur dengan LinuxCAD”. Selalu saja di banyak seminar tentang Linux, yang diajarkan adalah Installasi Linux. (Paling banter cuma “Pelatihan Applikasi Perkantoran dengan Open Office”)
Lalu kenapa juga jarang sekali ditemukan pelatihan “Installasi Windows”? Kenapa yang justru lebih banyak ditemukan adalah pelatihan software prorietary berjudul, “Pelatihan Desain Grafis dengan Photoshop dan CorelDraw”, “Pelatihan AutoCAD”, atau yang paling mudah “Pelatihan MS. Office”? Jawabannya, karena end user (pengguna akhir) tidak perlu tahu bagaimana sistem itu bisa ada di dalam komputer. Mereka cuma mau tahu mereka bisa membuat sesuatu dengan program itu!
Di sinilah kesalahan para penggiat Linux: memperkenalkan Linuxnya saja tanpa memberikan pengetahuan lebih jauh tentang penggunaan software 3rd party pendukungnya untuk mengerjakan sesuatu.
-
Ternyata juga tidak cuma di kegiatan pelatihan dan perkenalan Linux saja. Di toko-toko buku, yang lebih utama dibahas oleh penulis buku (penulis juga termasuk penggiat, kan?) adalah installasi Linux, Linux untuk jaringan, Linux untuk server, dll. Walau pun ada, sangat jarang sekali terdapat buku-buku Linux, yang menunjukkan bahwa Linux itu juga bisa mengerjakan pekerjaan sama baiknya dengan yang dilakukan software proprietary. Coba cari buku tentang LinuxCAD, atau tentang Gimp, atau tentang Inkscape. Akan sangat bersyukur jika kita bisa menemukan 1 di antara 20 buku.
—————————————
Tulisan ini sekedar keresahan seorang pecinta Linux seperti saya, yang terpaksa lebih sering menggunakan software proprietary untuk mengerjakan suatu pekerjaan, hanya karena beberapa bagian di pekerjaan saya tidak bisa diselesaikan sebaik software proprietary menyelesaikan pekerjaan itu.
Untuk teman-teman di ILC 2009 tadi, Mamie, Arman, Eko, Anhie, dll. Acaranya keren! Sayang sekali pekerjaan saya tidak bisa sering-sering ditinggalkan. Kalian hebat!
Jika ada saran atau tanggapan, silakan membuka diskusi di bawah ini.
Selamat berinternet!

aduuuhhh,,,kurang promosi acaranya,,,knp sy tdk tau? padahal dikampus sendiri…ato mmng sy-nya yg dak gaul, hehe…
*garuk2 aspal*
Hahaha, setuju sekali Mus. Memang kelemahan terbesarnya OS Linux adalah konsentrasi kampanyenya yg tidak berkembang, sejak pertamakali saya kenal 12 tahun yg lalu sampai sekarang kegiatan penggiatnya tidak jauh dari install fest :p
pernah coba2 pake fedora bang, tapi bikin pusing ji pakenya. jadul skali kurasa pakenya…
mudah2an linux makin berkembang yak
salam hangat bang,
saya Pancallok asli Makassar juga
Pingback: Popularitas Linux dan Proprietary, Pasar dan Strategi | Mustamar Natsir
Betul itu pak Prof. Mus. Kayaknya memang teman2 LUGU perlu sering2 kopdar dgn teman2 di AM. karena pada dasarnya 4L ji. kalo ngumpul2 4L ji. Supaya strategi pemasaran dan sosialisasi Linux, bisa lebih berhasil.
Tq, Mus.
saya pernah beberapa kali coba linux tetapi akhirnya kembali ke windows juga. kalo bagi saya, kendala linux tu di 3rd party nya. secara penampilan n kinerjanya, software 3rd party linux jauh tertinggal dengan milik windows.
Harusnya promosi juga dilakukan di lingkungan pendidikan. Terutama dari tingkat SMP dan SMA yang juga mulai menggunakan komputer dalam pembelajarannya…
Hai, salam kenal, artikel anda ada di
http://linux-open-source.infogue.com/linux_si_hebat_yang_tidak_populer_mengapa_
ayo gabung bersama kami dan promosikan artikel anda ke semua pembaca. Terimakasih ^_^
Setuju, terutama poin ke 3. Dulu sempat keasyikan main console, tapi yah akhirnya balik lagi ke 3rd party windows software dengan alasan produktivitas. Tapi secara pribadi saya juga masih penggemar linux, walaupun hanya bermain2 dengan aplikasi multimedia dan game
Hmmm…menarik ceritanya..selama ini saya memang belum pernah coba pake Linux, dan kayaknya belum tertarik..
STOP bajakan !!!
START Open Source !!!
wah betul juga yach… dengan segala kelebihan yang dimiliki linux kok malah kurang populer…hmmm.. apa ya penyebab utamanya..???
kurikulum pendidikan sekarang lebih fokus ke skill untuk aplikasi windows daripada linux & untuk keperluan kantoran windows lebih banyak dipakai. linux juga udah dikenal orang sebagai OS yg susah dipakai, padahal banyak distro linux yg gampang dipake.
gw sendiri baru sekitar 2 bulan pake linux & udah nyoba 3 distro (ubuntu, mint, & linspire). pengen full pake linux, tapi masih harus dual boot dengan windows gara2 pelajaran komputer di kampus masih pake aplikasi2 yg cuma berfungsi di windows.
setuju bro, seorang teman juga setelah menginstall linux ngak lama kemudian ia kembali ke windows menggunakan photoshop dan corel untuk menyelesaikan orderan desain kaos.. Jadi memang kayaknya harus ada gebrakan. sebenarnya aku juga mau sekali menggunakan linux untuk pemakaian sehari-hari yang lebih familiar, apalagi dengar-dengar kalau Linux tidak akan mempan dengan virus, jadi tidak tergantung dengan software antivirus yang banyak memakan pemakaian RAM.