Gerhana bulan adalah fenomena alam yang tidak terjadi setiap malam. Fenomena ini terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan. Akibatnya, bayangan bumi menutupi badan bulan.
Subuh tadi, tanggal 16 Juni 2011, sekitar jam 2 ada gerhana bulan. Saya tau kabar itu dari berita di internet sehari sebelumnya, jadi semalam itu saya pantengin sampai subuh demi memotretnya dengan kamera kesayangan saya. Jadi berikut ini beberapa foto yang saya ambil.
Cerita-cerita Seputar Gerhana Bulan
Kalau bicara soal gerhana bulan (dan gerhana matahari juga), saya jadi ingat cerita dari ibu saya mengenai gerhana di desanya. Ibu saya berasal dari Gresik, Jawa Timur. Di desa tempat tinggalnya (namanya desa Mbarat), warga desa mempercayai bahwa gerhana itu terjadi karena seekor raksasa hendak menelan bulan. Untuk itu, ketika terjadi gerhana seluruh warga diwajibkan memukul bunyi-bunyian, dan apapun yang bisa dipukul dan menghasilkan bunyi. Suara gaduh dari bunyi-bunyian itu akan membuat raksasa takut, dan mengeluarkan bulan dari mulutnya, lalu lari meninggalkan bulan.
Cerita yang aneh, tentu saja. Tapi itulah cerita dari desa.
Nah, jadi semalam itu saya rela-rela saja pantengin bulan sejak jam 12 malam. Kamera Canon 500D sudah ditangan (kemarin saya mengira kamera itu hilang, ternyata saya lupa kalau sedang dipinjam sama Nanie, kawan hebat saya), lensa tele 75-300 juga sudah siap. Langit pun seperti habis dipel. Bersih mengkilap! Sebuah kondisi yang sempurna untuk memotret langit.
Saya sengaja menunggui gerhana bulan kali ini, karena gerhana bulan yang terakhir saya lihat – dan ingat – adalah ketika saya masih SMP – di kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Saya masih kecil saat itu, dan sudah bekerja sebagai buruh cat genteng di sebuah pabrik genteng. Siang saya sekolah, dan malam saya kerja mengecat genteng. Ngecat harus malam, karena kalau siang tidak mungkin rasanya mengecat ratusan genteng di bawah terik. Kamu tahu gaji yang saya peroleh dari mengecat genteng itu? Rp.10,- per lembar genteng. Menyedihkan. Hidup memang penuh perjuangan. *curcol detected*.

Nah, jadi pas lagi asik-asik ngecat lembar demi lembar genteng, saya melihat ke atas (ceritanya seperti meratapi nasib yang amat keras ini, memohon petunjuk Yang Kuasa), saya melihat bulan tinggal separuh. Padahal sebelumnya saya ingat bulan itu sedang bulan purnama. Gerhana?
Lalu saya tanya ke buruh lainnya yang lebih tua dari saya (ya, dia memang ibu-ibu tua sekali), “ibu yang baik hati, lihatlah bulan di atas sana. Apakah menurutmu itu adalah sebuah fenomena gerhana yang sedang terjadi?,” tanyaku.
Ia lalu menengadah ke atas, lalu seketika itu pula sang ibu berteriak histeris, “GERHANA!!!, GERHANA!!!” sambil memukul semua yang bisa dipukul dan dibunyikan. Untunglah saya sigap menghalanginya dari memukul genteng-genteng yang ada.
Ia lari ke sana ke mari, ke arah kampung, ke tiang listrik – dan memukul-mukulnya, sambil berteriak, “GERHANA!!!, GERHANA!!!”.

Mendengar teriakan si ibu, orang-orang kampung berlarian ke luar rumah, juga ikut berteriak seperti kesurupan. Saya hanya bisa diam, meratapi sebuah kesalahan yang baru saja saya lakukan. “Ini semua salahku! Akulah yang menyebabkan semua kekacauan ini”, kataku dalam hati.









menarik sekali ceritanya kak..
Astaga Mus, jadi kamu toh yg menyebabkan ‘kerusuhan’ itu. hehehe. Eh baidewei saya juga pernah mendengar legenda itu, tapi bukannya tentang gerhana matahari ya?
Menarik seperti saya, kan?
Kabarnya yg legenda soal gerhana matahari itu hanya hoax.
Saya bingung dengan tulisan ini. :)
bagus photo2 ta.
kayak cerita legenda apaaa gitu hahahaha
but anyway, iya, hidup emang penuh perjuangan :)
I love reading these atrlcies because they’re short but informative.
ROW420 vmtaeonxhyod
informasi menarik sekali yang buat dalam cerita yang menarik.
good job.